Tangan Bu Emil benar-benar lembut dan halus. Di mainkannya kemaluanku dengan mesranya. Diremeess, diusap-usap, sedikit kocokan..., membuat kepala penisku kian membesar. Kulihat juga Bu Emil makin terangsang.
"Aah..., mhemm...", Tidak kusia-siakan kesempatan ini, kulepas tangannya dari penisku, langsung kumasukkan ke mulut Bu Emil. Bibir seksinya mencium dan mulai mengulum penisku, "Whooom..., ooopp..., whoomm..., whoop..., ooopp!" Bunyi mulutnya tatkala mengocok penisku.
"Besar sekali... Pak, sampe nggak muat ke mulut saya", Sambil senyum Bu Emil kembali beraksi. Masuk..., keluar..., maju..., mundur..., penisku masuk ke mulut Bu Emil.
"Uuhh..., ooohh..., nikmat skali..., Bu..., trus..., Bu..., aduh..., nggak tahan saya!"
[CERITA JANDA] BU EMIL PIJAT++ PEMUAS DAHAGA
Kring..., kring...!, Telepon di ruang kerjaku berdering. "Hallo, pap. Mamah pulangnya agak malam, Istri pemilik usaha ini, minta di temani jalan." Dan bla-bla-bla, istriku ngoceh terus. Tapi yang penting buatku, katanya dia tidak enak dan kasihan sama Bu Emil (tukang lulur). Daripada ngebatalin, ya udah..., akhirnya aku yang menggantikan istriku luluran.
Jam 04.00 sore aku sampai di rumah. Rupanya Bu Emil belum datang. Jadi aku sempat makan sedikit. Belum habis makanannya, Bu Emil sudah berada di muka pintu gerbang. Karena sudah biasa, dia langsung masuk dan membereskan kamar olah raga (biasanya di pakai istriku untuk senam dan luluran). Sebelumnya pembantuku, Ning namanya sudah aku beritahu, kalau istriku tidak luluran, yang luluran aku. Sambil membawa air putih, pembantuku menyampaikan, kalau Bu Emil sudah menungguku untuk luluran.
"Sore Bu...", sapaku sambil membuka baju dan celana panjang. Tinggal memakai celana dalam saja. Mestinya seperti istriku, kalau luluran tidak memakai apa-apa. Tetapi karena aku cowok dan baru kali ini luluran, tidak enak juga rasanya, kalau ikutan polos. Bisa dibilang baru kali ini aku ngobrol banyak dengan Bu Emil. Katanya, dia sudah lama menjadi tukang lulur. Kira-kira 10 tahun dan menjadi tulang punggung keluarga. Dia bercerai dengan suaminya sudah 5 tahunan dengan menanggung 2 anak remaja. Sambil tiduran (karena di lulur), aku perhatikan Bu Emil. Umurnya kira-kira 45 thn. Kulitnya putih (turunan chinese), tingginya kira-kira 165 cm, beratnya 60 kg, dan berwajah menarik. Sekali-kali Bu Emil menunduk, sambil menggosok badanku dengan lulur, wah..., tangan Bu Emil ini termasuk lembut juga. Mungkin karena tiap hari ngelulurin, jadi lembut kali. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Bu Emil memiliki payudara yang besar. BH-nya berukuran kira-kira 38D. Sampai-sampai brung di bawah pusarku bergetar, terangsang. Ingin rasanya memasukkannya ke dalam lubang kemaluan Bu Emil. Tapi aku tidak mempunyai keberanian untik itu, takut ketahuan istri, bisa gawat! Sambil nyoba-nyoba aku pancing-pancing Bu Emil.
"Bu..., pernah nggak ngelulur laki-laki?", sambil bertanya aku sibakkan celana dalam. Maksudnya supaya dia ngelulur juga selangkaanku.
"Sering Pak, Malah ada anak remaja, beberapa langganan saya suaminya juga sering luluran".
"Nggak malu Bu? Kalau sampe ada yang buka celana, trus ibu pasti liat barang terlarang khan?", Coba-coba kupancing dia. Nah..., kelihatannya dia sudah mulai terbawa suasana hot.
Sambil ketawa dia bilang, "Ya..., nggak dong Pak, khan ngeliat aja, nggak di apain, paling dipegang aja". Nah..., feelingku mulai merasa ini bisa dimainkan juga. Pikiran kotorku mulai beraksi.
"Kalau gitu, saya buka celana dalamnya ya..., bu? Biar bisa di lulur di selangkangan, kan dakinya banyak di situ". Tanpa banyak ba.., bi.., bu.., celana dalam kulepas, kini aku bugil di depan Bu Emil, dengan penisku yang mendongak ke atas. Berdiri tegak dengan jantannya. Kulihat ekspresi mukanya sedikit, entah kaget atau takjub, melihat penisku yang besar dan panjang.
"Lho..., kog? Udah gede..., Pak, adik kecilnya" katanya, tapi matanya tetap tidak berkedip memandang penisku. Mulai terbakar birahinya.
"Wah..., ini sih belum apa-apa Bu, kalo dipanasi bisa tambah greng lho?, kataku sambil tangannya kupegang dan aku letakkan di atas penisku. Tapi Bu Emil bukannya mengelak, malah tangannya mulai memain-mainkan penisku. Gila..., acara lulurannya jadi berubah..! Tangan Bu Emil benar-benar lembut dan halus. Di mainkannya kemaluanku dengan mesranya. Diremeess, diusap-usap, sedikit kocokan..., membuat kepala penisku kian membesar. Kulihat juga Bu Emil makin terangsang.
"Aah..., mhemm...", Tidak kusia-siakan kesempatan ini, kulepas tangannya dari penisku, langsung kumasukkan ke mulut Bu Emil. Bibir seksinya mencium dan mulai mengulum penisku, "Whooom..., ooopp..., whoomm..., whoop..., ooopp!" Bunyi mulutnya tatkala mengocok penisku.
"Besar sekali... Pak, sampe nggak muat ke mulut saya", Sambil senyum Bu Emil kembali beraksi. Masuk..., keluar..., maju..., mundur..., penisku masuk ke mulut Bu Emil.
"Uuhh..., ooohh..., nikmat skali..., Bu..., trus..., Bu..., aduh..., nggak tahan saya!"
Aku benar-benar merasakan kenikmatan. Aku tahan spermaku yang mau keluar, aku ingin keluar di dalam lubang vaginan Bu Emil. Sambil aku tahan, Bu Emil makin menjadi-jadi memainkan penisku di mulutnya. Mulai aku buka bajunya, kupegang payudaranya yang besar, kuremas dengan lembut, Bu Emil tambah terangsang. Dari rintihan kecilnya, aku tahu, dia sudah dibawah kendaliku. Aku maki bernafsu..., dengan bangun pelan-pelan, kulepas bajunya sambil bibirnya dan big boobnya kucium, aku dan Bu Emil seperti lepas kendali..., saling cium..., peluk. Badanku yang masih berisi lulur menambah hangatnya pergumulan. Payudaranya yang besar menempel di badanku. Bergetar nafsuku.
"aah..." Bu Emil sedikit mengerang, sewaktu payudaranya kucium dan kugigit-gigit. Posisinya sekarang di bawah, telentang! Dari payudaranya kutelusuri (aku jilati) perutnya "cup..., csrut...", lidahku mulai bermain. Semua detial payudaranya kucium, kujilati..., meluncur ke bawah, perutnya..., ke bawah lagi..., waah..., luar biasa..., bau badan Bu Emil begitu harum. Tinggal selangkah lagi lidahku bermain, hingga kutemukan bulu-bulu halusnya yang menyembul dari celana dalamnya. Sedikit usaha terlepas sudah celana dalamnya. Kelihatan bulu-bulu hitam menyembul makin lebat. Aku melongok ke bawahnya, bulu-bulu hitamnya kusibakkan..., terlihat lubang kenikmatan yang berwarna merah muda menantang. Aku tidak tahan! Kujilati semuanya..., bulu-bulunya..., clitorisnya..., lubang vaginanya. Sisi-sisi vagina Bu Emil memang sedikit keluar, aku hisap, "Sruuup..., cuuupp..." semuanya!
"Aahh..., Oooh..., aduh nggak tahan..., Pak..!" Erangannya menambah nafsu liarku, tidak henti-hentinya kujilati vaginanya dan clitorisnya aku kulum, kugigit-gigit kecil, sampai akhirnya, "aah..., aduh..., saya keluar..", sambil berusaha duduk menghadap ke arahku. Akupun langsung berdiri. Kuarahkan penisku ke arah bibirnya, "Slup..., mhom...", dikulumnya sekali lagi penisku.
"Oooh..., bagus Bu..., trus masukin semuanya..., hisaap..., Bu.." kulumannya membuatku semakin mabuk kepayang. Dari ujung penis hingga ke biji pelerku semua bersih..., dihisep..., dikulum..., masuk..., keluar, "ooohh...." Karena kita sudah makin memuncak, aku tarik penisku, kucium Bu Emil sambil tiduran, kakinya menjulur ke bawah tempat tidur. Pahanya kubuka, lubang kenikmatannya sedikit terbuka.
Pelan tapi pasti penisku mulai masuk, "Bleeep..", sedikit basah..., Sreet..., bleeep..., penisku maju mundur menembus lubang kenikmatan Bu Emil. Semakin lama semakin dalam aku benamkan penisku, hingga menembus bagian dalamnya..., cairan Bu Emil makin banyak keluar.
"Oohh..., saya keluar..., pak!", Sambil badannya mengelinjang orgasme. Aku benar-benar seperti kuda liar, lepas kendali. Aku suruh Bu Emil nungging, lubang pantatnya kelihatan jelas, aku gosok-gosokan penisku di lubang duburnya, sambil penisku turun ke bawah mencari lubang kenikmatan Bu Emil. Kuintip lubang vaginanya, gila! Bagaikan sumur dalam yang tidak ada ujungnya.
"aahh..., aduh..., Pak..? Bu Emil menjerit kecil. "Sreeet..., bleeep..., penisku masuk ke lubang vaginanya. Lalu kupompa Bu Emil..., "Bleepp..., sreet..", bunyi penisku dan vagina Bu Emil, bersatu padu.
"Aahh..., ooohh..., keluar..., Bu...!" Bersamaan dengan air maniku keluar, Bu Emil juga mengerang, "aahh...". Crooot...,crot! air maniku keluar dari dalam lubang Bu Emil. Hangat..., penisku masih terbenam. Terasa disedot. Bu Emil sengaja memainkan lubangnya, sambil berbalik memciumiku, kupeluk Bu Emil, Mesra!
Jam 09.00 malam istriku sampai di rumah, diantar sopir kantornya. Panjang lebar dia cerita tentang kegiatannya dengan ibu pemilik perusahaan. Sambil muji badanku, "tambah putih dan bersih lho..., Pap...? Pinter ya..., Bu Emil ngelulur." Aku hanya mengangguk saja, no comment! Padahal dalam hati, pikiranku melayang membayangkan lubang Bu Emil!
TAMAT
Baca kisah lainnya:
Istriku nakal hot berbadan sintal